Kekuatan Dibalik Mantra Rahasia
Man Jadda Wajada!
Negeri 5 Menara
karya A. Fuadi

cover Negeri 5 Menara

Resensi
oleh Nurul Fitri Astuti

Judul

Pengarang

Cetakan ke-

Tahun terbit

Kota terbit

Penerbit

Jumlah halaman

: Negeri 5 Menara

: A. Fuadi

: 15

: 2012

: Jakarta

: PT Gramedia Pustaka 

: Xii + 425 halaman

Jika kita ingin melakukan sesuatu atau ada tujuan tertentu yang ingin diraih pastinya kita akan ingat dengan rahasia dibalik kekuatan Man Jadda Wajada. Apa itu Manjadda Wajadda? Manjadda Wajadda merupakan suatu istilah dalam bahasa Arab yang artinya “barangsiapa bersungguh-sungguh maka pasti akan berhasil”. Arti Man Jadda Wajada sangatlah penting dalam kehidupan kita karena ketika ingin mencapai suatu tujuan tertentu pastinya harus ada kesungguhan. Intinya adalah kita harus berusaha dan pantang menyerah, serta harus selalu bersabar dalam menghadapi masalah serta cobaan dalam hidup ini. 

Man Jadda Wajada, tentang bagaimana keampuhan dari mantra rahasia itu, A. Fuadi telah menuangkan cerita inspiratif dalam novelnya yang berjudul Negeri 5 Menara. Penulis yang bernama lengkap Ahmad Fuadi itu menceritakan seorang pemimpi, sosok yang berkarakter dan berkemauan kuat dalam mewujudkan mimpinya. Terdapat 47 bab yang menjadi rangkaian alur cerita dengan Man Jadda Wajada sebagai salah satu babnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kata Man Jadda Wajada bagi penulis sendiri dan ntuk pembaca pada umumnya. 

Novel ini mengisahkan tentang seorang anak yang dipaksa masuk ke pondok pesantren oleh orang tuanya. Nama anak itu Alif Fikri, dia adalah salah satu penghuni Pondok Madani. Masuk pondok pesantren bukanlah sepenuhnya kemauan Alif, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Alif bercita-cita melanjutkan sekolah SMA, tapi karena orangtuanya ingin agar anaknya menjadi seperti Buya Hamka, walau Alif sendiri ingin menjadi seperti Habibie mau tidak mau, dengan setengah hati Alif mengikuti kemauan orang tua. Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Di sana ia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Kisah Alif Fikri yang tinggal di Pondok, membuat pembaca mengetahui bahwa bersekolah di pondok itu tidak monoton belajar tentang agama saja, membaca dan menghafal Al Qur’an saja, tetapi lebih kepada penerapan kehidupan sehari-hari seperti sekolah umum lainnya dengan tetap mengedepankan dasar atau syariat agama Islam. Di novel ini dilukiskan Tinggal di pondok selain bisa tetap menyalurkan hobbi, Alif dan kelima kawannya bersama-sama dengan segala kemampuannya bersusah payah mengejar impian mereka masing-masing. Seperti halnya Baso yang datang ke Pondok dengan niat menghafal Al-Quran, maka selain mengikuti kegiatan pelajaran umum, kemana-mana dia juga membawa buku favoritnya yakni Al Quran butut! Juga bagaimana gembiranya Alif, meski memiliki ukuran tubuh tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan pemain sepak bola, Alif masih bisa menyalurkan bakat bermain sepak bolanya walau setiap bertanding hanya pasrah sebagai pemain cadangan.

Novel Negeri 5 Menara ini dibungkus dengan bahasa yang mudah dicerna. Bahasanya tidak membingungkan pembaca. Novel ini memperkenalkan matra rahasia man jadda wajada. Sebuah pepatah Arab yang berarti, “siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses”. Pesan itu disampaikan lewat pelajaran yang diperoleh para tokoh dalam novel. Pelajaran bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa. Jangan pernah remehkan mimpi, setinggi apa pun. Sungguh Tuhan Maha mendengar. Novel ini dipaparkan dengan begitu detail. Beberapa nama tempat dan fakta yang disebut otentik. Kita seperti dibawa bertamasya secara spiritual, dari Bukittinggi yang permai hingga Washington yang bersalju. Dari Pondok Madani yang ajaib hingga Trafalgar Square yang meremangkan bulu roma. 

Pengarang memilih latar tersebut didasari kepentingan atas tema, alur, dan penokohan. Latar atau setting pada karya sasta Novel negeri 5 menara ini termasuk realitas objektif yaitu benar-benar dialami oleh pengarang dan pembaca mengetahui latar tempatnya. 

Novel ini diawali dengan latar sosial, yang membuat tokoh utama “Alif” terpaksa menerima tawaran amaknya untuk masuk ke PM, sebuah Pondok modern yang berada di pulau jawa. Alur cerita ini dapat dilihat dalam subjudul “Keputusan Setengah Hati”, halaman 5 sampai 13. Pembaca langsung dihadapkan dengan konflik batin antara alif dan amaknya dalam mewujudkan sebuah impian. Antara kepatuhan terhadap orang tua atau bersikeras dalam mewujudkan impian. Hal ini tentu dapat terjadi dalam kehidupan anak-anak lainnya. Di satu sisi, pendidikan modern menganjurkan agar orang tua sebaiknya hanya menggiring anaknya untuk memaksimalkan potensi mereka, yang akhirnya anaklah yang memutuskan ingin masuk ke jurusan apa ia nanti. Akan tetapi, di satu sisi, seorang anak harus mendapatkan ridho dari Allah dan orang tuanya agar selamat dan diberi kemudahan dalam meraih cita-citanya. 

Setelah mengawali cerita dengan latar sosial, maka novel ini mulai menggambarkan latar tempat, alam sekitar PM. “Jalan desa yang berdebu tiba-tiba melebar dan membentangkan pemandangan lapangan rumput hijau yang luas. Disekitarnya tampak pohon-pohon hijau yang luas. Disekitarnya tampak pohon-pohon hijau rindang dan pucuk-pucuk kelapa yang mencuat dan menari-nari dihembus angin. Di sebelah lapangan tampak sebuah komplek gedung bertingkat yang megah. Sebuah kubah besar bewarna gading mendominasi langit, didampingi sebuah menara yang tinggi menjulang. Di tengah kabut pagi, komplek ini seperti mengapuung di udara” (“Kampung di atas kabut”, Halaman 29).

Pondok Madani (PM) memiliki luas 15 hektar (Halaman 30), memiliki sistem pendidikan 24 jam. Tujuan pendidikannya untuk menghasilkan menusia yang mandiri yang tangguh. Kegiatan pembelajaran diadakan di kelas, lapangan, masjid, dan tempat lainnya. Lalu Burhan salah satu tokoh dalam novel ini menunjukkan gedung utama, pertama masjid jami’ dua tingkat yang berkapasitas empat ribu orang dan kedua aula serba guna, tempat kegiatan penting berlangsung. Mulai dari pargelaran teater, musik, diskusi ilmiah, ucapan selamat datang pada siswa baru dan penyambutan tamu kehormatan. 

Latar tempat itulah yang akan berinteraksi dengan para tokoh sehingga membentuk karakter tokoh. Pemaparan latar tempat ini menunjukkan betapa modernnya sebuah pondok. Bahkan mengalahi sekolah umum. Hal ini tentu sangat menakjubkan. Dan ini bisa menjadi kelebihan PM dibanding dengan sekolah umum lainnya. Latar tempat berupa fasilitas yang lengkap inilah salah satu pemicu berkembangnya kreativitas para santri. Bukan hanya latar tempat yang mempengaruhi karakter para tokoh, akan tetapi latar sosiallah yang berperan penting dalam pembentukan mental para tokoh. 

Latar sosial yang menonjol dan sangat mempengaruhi karakter para tokoh adalah ketika hari pertama masuk sekolah setiap murid di PM diberi satu kalimat motivasi yang di ambil dari pepatah arab yaitu “man jadda wajada”  yang artinya barang siapa yang besungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Hal ini diyakini, menanamkan motivasi dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan impian. Di PM, mereka tidak hanya diajarkan dengan kata-kata belaka, tetapi mereka selalu dipertotonkan dengan aksi nyata oleh para ustadz yang mengajar di sana. 

Latar sangat erat kaitannya dengan unsur fiksi yang lain dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Latar di dalam novel Negeri 5 Menara ini merupakan kolaborasi antara latar waktu, latar sosial dan latar tempat karena para tokoh dominan berada di lingkungan pondok pesantren. Latar tempat inilah yang kemudian menimbulkan latar psikologis, yaitu berupa budaya disiplin, keseriusan dan kesungguhan inilah yang membentuk karakter para tokoh. 

Novel  Negeri 5 Menara ini sangat cocok menjadi panduan orang tua yang sedang bingung memasukkan putra-putrinya dalam melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi. Barangkali saja, dengan membaca novel ini para orang tua bisa dengan serta merta membuang image buruk tentang sekolah agama, yaitu pondok pesantren. Dan barangkali saja dengan membaca kisah sukses Alif menjalani kehidupan yang jauh dari orang tua, seorang anak bisa lebih hidup mandiri dengan kemampuannya sendiri dengan pegangan mantra sakti ‘Man Jadda Wajada’. Bagi murid yang sedang menimba ilmu baik yang di pondok maupun di sekolah umum, buku ini juga bisa digunakan pegangan karena di dalam buku itu menyimpan banyak tips dan trik ketika menghadapi ujian.

Sayangnya buku ini datang setelah Laskar Pelangi jadi terkesan agak ‘membuntuti’, bahkan bisa dibilang bahwa nilai yang diangkat sangat mirip. Selain itu, kekurangan pada novel ini terletak dinamika cerita yang dihadirkan terasa sangat datar, pembaca seperti melihat catatan harian yang dikemas menjadi karya fiksi. Meskipun demikian, Negeri 5 Menara menampilkan sisi kehidupan berbeda yang mungkin tidak pernah kita tahu, kehidupan pondok dan pola pendidikan di sana. Selain itu setelah membaca Novel Negeri  5 Menara dapat memberikan motivasi, semangat dan optimisme serta tidak dapat kenal menyerah dalam meraih impian dengan rahasia di balik mantra Man Jadda Wajada!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.